Perbandingan Market Performance Dan Karakteristik Keuangan Perusahaan Sektor Aneka Industri Dengan Sektor Real Estat
by Judul Skripsi on September 20, 2009
in Skripsi Ekonomi Managemen
Abstraksi Tugas Akhir / Skripsi Jurusan Ekonomi Managemen dengan Judul : Perbandingan Market Performance Dan Karakteristik Keuangan Perusahaan Sektor Aneka Industri Dengan Sektor Real Estat
Penelitian ini menganalisis market performance pada dua kelompok sektor saham di bursa efek Jakarta (BEJ), yaitu sektor aneka industri dan sektor properti – real estat. Antara kedua sektor tersebut, juga dilakukan analisis perbedaan karakteristik keuangan berdasarkan pada beberapa rasio yang terdapat pada laporan keuangan. Ukuran market performance yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sharpe’s measure, sedangkan karakteristik keuangan yang digunakan adalah PER, PBV dan DER.
Sampel yang digunakan adalah saham-saham yang termasuk ke dalam sektor aneka industri dan properti-real estat yang dipilih dengan menggunakan metode judgement sampling. Data karakteristik keuangan diambil dari laporan keuangan perusahaan periode Desember 200x, sedangkan data yang digunakan untuk menghitung market performance, yaitu harga saham, IHSG, dan suku bunga SBI, diambil secara bulanan pada periode Maret 200x-Maret 200x.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu penelitian tahap pertama membandingkan market performance dan karakteristik keuangan antara sektor aneka industri dengan sektor properti. Penelitian tahap kedua adalah pengujian pengaruh karakteristik keuangan terhadap market performance. Pada penelitian tahap pertama didapatkan hasil bahwa market performance sektor aneka industri memiliki rata-rata yang tidak berbeda dengan market performance properti – real estat. Demikian pula untuk variabel-variabel yang lain, yakni excess return, PER, PBV dan DER untuk kedua sektor tersebut tidak memiliki rata-rata yang berbeda.
Dari hasil pengujian-pengujian statistik yang dilakukan pada penelitian tahap kedua, diperoleh kesimpulan bahwa variabel PER, PBV dan DER, baik secara bersama-sama atau parsial tidak mampu menjelaskan market performance pada kedua sektor tersebut.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dalam sektor aneka industri, saham XYZ memiliki Sharpe’s measure tertinggi, sedangkan ABC yang terendah. Untuk sektor properti, saham CDE memiliki Sharpe’s measure tertinggi, sedangkan MNO memiliki Sharpe’s measure yang terendah.
Analisis variabel PER, PBV, size dan beta Untuk menjelaskan tingkat pengembalian saham perusahaan di pasar
by Judul Skripsi on September 10, 2009
in Skripsi Ekonomi Managemen
Bab Pendahuluan Tugas Akhir / Skripsi Jurusan Ekonomi Managemen dengan Judul : Analisis variabel PER, PBV, size dan beta Untuk menjelaskan tingkat pengembalian saham perusahaan di pasar
Dunia investasi di Indonesia saat ini bukanlah merupakan satu dunia yang asing. Banyak masyarakat yang telah mengenal dunia ini dan bahkan telah mulai terjun ke dalamnya. Sebagian dari masyarakat sudah mulai sadar bahwa dana lebih yang mereka miliki dan tidak terpakai bisa saja mengalami penambahan nilai lewat aktivitas investasi ketimbang dengan hanya menyimpannya secara pribadi di dalam rumah.
Saat ini tercatat sebanyak 344 perusahaan, yang terbagi atas 9 sektor, terdaftar sebagi emiten (Media Indonesia, 10 Oktober 200x). Dari sekian banyak emiten dengan instrumen investasi yang mereka tawarkan masing-masing, investor dapat berinvestasi pada satu atau beberapa instrumen yang ada. Masalahnya adalah, di antara semua instrumen tersebut, manakah yang sekiranya baik dan tepat sehingga nantinya mampu memenuhi harapan para investor.
Dalam berinvestasi, investor telah merelakan konsumsi atas sejumlah dana yang mereka miliki saat ini untuk ditukar dengan aset-aset investasi. Kerelaan yang diberikan para investor ini berimbal hasil pada kemungkinan akan satu atau lebih keuntungan yang bersifat finansial. Pada saham contohnya, investor pemegang instrumen investasi ini bisa mendapatkan dua bentuk keuntungan finansial; dividen (bagi investor yang lebih menginginkan mendapatkan hak kepemilikan atas perusahaan) dan capital gain (bagi investor yang lebih menginginkan keuntungan cepat). Dividen adalah merupakan satu-satunya bentuk pembayaran tunai yang diberikan oleh perusahaan emiten kepada para pemegang sahamnya. Sedangkan capital gain adalah keuntungan tambahan yang bisa didapat investor dari hasil selisih harga pembelian saham dengan harga ketika dilakukan penjualan atas saham tersebut.
Investor yang mengharapkan capital gain memiliki prediksi serta pengharapan akan adanya kenaikan harga pada saham yang ingin dibelinya pada saat melakukan pembelian. Kenaikan terhadap harga saham inilah yang nantinya akan memberikan return positif bagi investor ketika ia menjual kembali saham yang dimilikinya tersebut. Return positif hanya didapat jika harga jual saham lebih besar dibanding harga pembeliannya.
Dalam melakukan prediksi akan kondisi harga saham di masa datang, investor tidak hanya mengandalkan keberuntungan semata. Saham yang nantinya akan mengalami kenaikan harga dapat diketahui melalui sebuah proses analisa. Dalam melakukan analisa ini, investor harus membekali dirinya dengan pengetahuan akan bagaimana proses pembentukan harga terjadi pada sebuah saham atau setidaknya investor harus mengetahui variabel-variabel apa saja yang dapat mempengaruhi return sebuah saham agar ekspektasi mereka akan return di masa datang dapat diperoleh sehingga usaha dalam mencari return positif bisa diwujudkan.
Teori yang banyak digunakan sebagai acuan para akademisi dalam hal pembentukan return investasi adalah teori oleh Sharpe (1964), Lintner (1965) dan Black (1972) yang dikenal dengan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa return adalah merupakan satu fungsi dari (1) risk-free rate (tingkat pengembalian instrumen investasi bebas resiko), (2) resiko sistematik instrumen investasi (beta) dan (3) premi terhadap resiko yang diharapkan (Keown, 2001). Model tersebut menyatakan bahwa beta adalah satu-satunya variabel bebas yang dapat mempengaruhi return saham.
Penelitian selanjutnya menyebutkan bahwa ternyata selain beta terdapat adanya variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap return. Basu (1983) menunjukkan bahwa P/E ratio dapat membantu menjelaskan return pada saham di pasar Amerika. P/E ratio terbukti memiliki pengaruh positif pada return saham. Dalam penelitiannya dia juga mengikut sertakan variabel lain selain P/E ratio seperti nilai kapitalisasi pasar (size) serta beta (?) saham. Fama and French (1992) menemukan adanya hubungan negatif antara size dan PBV (price to book value ratio) dengan return pada saham-saham NYSE, AMEX dan NASDAQ. Di Indonesia, penelitian serupa juga telah dilakukan. Dewiyani (1998) mencoba untuk menemukan hubungan antara variabel beta, PE ratio, size, dan PBV terhadap return saham di Bursa Efek Jakarta untuk periode penelitian dari Januari 1993 s/d Desember 1996. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa terdapat dua variabel yang berhubungan dengan return yaitu size dan PBV. Kedua variabel tersebut secara bersama-sama (pooled) memberi pengaruh negatif terhadap return.
Penulis lewat penelitian ini ingin mencoba melakukan replikasi terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, terutama yang penelitian oleh Leola Dewiyani, namun dengan periode data yang berbeda. Penulis ingin membuktikan apakah dengan periode data yang berbeda, hasil dari penelitian akan menunjukkan hubungan yang sama antara variabel return sebagai variabel terikat dengan variabel PER, PBV, size dan beta.
